Berkata Malaikat: "Maha Suci
Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan
kepada kami; sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha
Menghukumi" Surat Al-Baqoroh (2:32).
Beribu-ribu tahun yang lalu, ketika Allah akan menjadikan Adam
sebagai khalifah di muka bumi, para Malaikat sempat mempertanyakan
mengapa Allah memilih mahluk yang doyan berbuat kerusakan dan
mengalirkan darah menjadi khalifah?. Mengapa bukan justru mereka saja
yang terus menerus tanpa putus bertasbih yang dinobatkan menjadi
khalifah bumi? Heran.
Bagaimana cara Allah menangani keheranan Malaikat? Wa ‘allamal adaama
asmaa-a kullahaa diajarkan-Nya-lah kepada Adam nama seluruh benda yang
waktu itu ada di muka bumi. Sini tanah, situ pohon, sana batu, sono
langit, ini hidung, itu kaki, dst, dst.
Setelah itu Allah berkata kepada Malaikat: "Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kalian benar". Malaikat menyerah. Fasajaduu –
mana sujud para Malaikat itu, kepada Adam, illaa ibliis – kecuali Iblis.
Hanya ilmu tentang nama-nama benda. Bukan ilmu dasar iptek
matematika, fisika, kimia, biologi yang ruwet-rumit. Hanya nama-nama
benda. Tidak lebih.
Peristiwa Besar
Kejadian itu sepertinya hal kecil. Padahal adalah sebuah peristiwa besar. Yang menunjukkan betapa makhluq itu tidak ada apa-apanya dimata Sang Khaliq.
Malaikat dibuat dari cahaya. Manusia dibuat dari tanah. Tugas manusia adalah beribadah kepada Allah. Tugas Malaikat adalah, antara lain, mencatat amal baik dan amal buruk manusia.
Kejadian itu sepertinya hal kecil. Padahal adalah sebuah peristiwa besar. Yang menunjukkan betapa makhluq itu tidak ada apa-apanya dimata Sang Khaliq.
Malaikat dibuat dari cahaya. Manusia dibuat dari tanah. Tugas manusia adalah beribadah kepada Allah. Tugas Malaikat adalah, antara lain, mencatat amal baik dan amal buruk manusia.
Dari hal-hal itu, seorang anak kecil saja bisa menarik kesimpulan bahwa kedudukan Malaikat lebih tinggi dari manusia.
Tapi mengapa Malaikat “kalah” ketika di test nama-nama? Padahal hanya
nama-nama sederhana? Kalah oleh manusia yang ingredient alias ramuan
bahan dasarnya saja “lebih rendah”?.
Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Karena Allah menghendaki
mengajarkan kepada Adam ilmu nama-nama yang tidak pernah diajarkan-Nya
kepada Malaikat.
Einstein-Hawking
Jika ditanya siapakah ilmuwan-ilmuwan terbesar sepanjang masa, maka Albert Einsten dan Stephen Hawking adalah dua nama diantaranya. Yang pertama terkenal dengan teori relativitasnya, yang kedua terkenal dengan teori ‘big bang’ alias dentuman besarnya. Teori apa itu? Bukan porsi artikel ini untuk menjelaskannya.
Jika ditanya siapakah ilmuwan-ilmuwan terbesar sepanjang masa, maka Albert Einsten dan Stephen Hawking adalah dua nama diantaranya. Yang pertama terkenal dengan teori relativitasnya, yang kedua terkenal dengan teori ‘big bang’ alias dentuman besarnya. Teori apa itu? Bukan porsi artikel ini untuk menjelaskannya.
Jawaban terhadap pertanyaan mengapa kecemerlangan otak mereka tidak
diberikan kepada ilmuwan Muslim melainkan justru diberikan kepada
ilmuwan atheis, identik dengan jawaban terhadap pertanyaan mengapa ilmu
nama-nama tidak diberikan kepada Malaikat.
Diantara 25 Nabi, ada 5 Nabi yang mendapatkan peringkat Ulul ‘Azmi: Fashbir kamaa shobaro uulul ‘azmi – shobarlah sebagaimana rasul yang diberi keshobaran hati. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad.
Diantara 25 Nabi, ada 5 Nabi yang mendapatkan peringkat Ulul ‘Azmi: Fashbir kamaa shobaro uulul ‘azmi – shobarlah sebagaimana rasul yang diberi keshobaran hati. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad.
Tetapi mengapa Musa sampai harus meminta-minta diajari ilmu
mengetahui masa depan kepada Nabi Khidir yang di dalam daftar 25 Nabi
pun, tidak ada? Tragisnya, boro-boro mendapatkan ilmu, Musa menjadi
murid Khidir pun, gagal, karena tidak bisa menahan diri untuk tidak
bertanya atas berbagai hal yang memang aneh dan layak ditanyakan.
Misalnya, dengan enaknya Khidir membunuh orok yang masih merah, dll.
Mengapa Khidir lebih pintar dari Musa? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian.
Dikejadian lain, mengapa Musa yang Ulul ‘Azmi bisa dikalahkan oleh ilmunya Bal’an bin Bauro sehingga muter-muter selama 40 tahun sampai bisa menemukan Baitul Maqdis? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian.
Dikejadian lain, mengapa Musa yang Ulul ‘Azmi bisa dikalahkan oleh ilmunya Bal’an bin Bauro sehingga muter-muter selama 40 tahun sampai bisa menemukan Baitul Maqdis? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian.
Jika sejak tahun 1886 mobil Merdeces-Benz menemukan puluhan ribu
paten, maka setiap paten sesungguhnya adalah Ilmu Allah, hanya saja
awalnya ditemukan oleh orang Jerman, Tuan Gottlieb Daimler dan Tuan Carl
Benz. Dst., dst. Tidak ada secuilpun di dunia ini yang tidak
didasarkan atas ilmu Allah. Bahkan sekedar nama-nama benda.
Ikhtilaf
Sayang sekali, untuk 1 ilmu yang sama, Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk menafsirkannya secara berbeda. Terutama ilmu-ilmu non-eksakta.
Sayang sekali, untuk 1 ilmu yang sama, Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk menafsirkannya secara berbeda. Terutama ilmu-ilmu non-eksakta.
Untuk ilmu eksakta, atau dulu disebut ‘ilmu pasti’, dimana-mana di
belahan dunia manapun yang namanya 2 kali 2 hasilnya 4; yang namanya air
selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah; yang namanya kecepatan
cahaya selalu jauh lebih besar daripada kecepatan suara; dst., dst.
Tetapi bagaimana dengan ilmu yang satu ini yang berbunyi:
al-jamaa’atu rohmatun wal firqotu ‘adzabun – jamaah adalah rohmat dan
pecah belah adalah siksa.
Ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘jamaah’, ada seabrek
pengertian yang dimaksud ‘rohmat’, ada seabrek pengertian yang dimaksud
‘firqoh’, dan ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘adzab’. Kalau
dibuat matriks 4x4 jamaah-rohmat-firqoh-adzab, maka pengertiannya sudah
pasti seabrek-abrek.
Maka disinilah fungsinya isnad atau mata rantai yang menjamin
tersambungnya dengan pengertian yang sebenarnya dengan apa yang
diajarkan dan dimaksudkan oleh Nabi.
Disinilah pentingnya ilmu asbabun-nuzul atau sebab-sebab turunnya sebuah ayat Al-Quran atau asbabul-wurud atau sebab-sebab adanya sebuah hadits.
Disinilah pentingnya ilmu asbabun-nuzul atau sebab-sebab turunnya sebuah ayat Al-Quran atau asbabul-wurud atau sebab-sebab adanya sebuah hadits.
Disinilah penting hadits Bukhori, Muslim, Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dsb.
Ilmu Tidak Bermanfaat.
Hah! Mosok iya ada ilmu yang tidak bermanfaat?
Yakin, haq: ada!. Buktinya Nabi mengajarkan do’a yang dibaca sebelum minum air zamzam: Alloohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a – Ya Allah hamba memohon ilmu yang bermanfaat.
Hah! Mosok iya ada ilmu yang tidak bermanfaat?
Yakin, haq: ada!. Buktinya Nabi mengajarkan do’a yang dibaca sebelum minum air zamzam: Alloohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a – Ya Allah hamba memohon ilmu yang bermanfaat.
Bukti lain, di hadits lain, Nabi mengajarkan do’a: Alloohumma innii
a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’ – Ya Allah hamba berlindung dari ilmu
yang tidak bermanfaat. Nah.
Banyak ilmu ternyata tidak selamanya identik dengan orang faqih atau orang faham.
Banyak ilmu ternyata tidak selamanya identik dengan orang faqih atau orang faham.
Faqihun wahidun asyaddu ‘alasy syaithooni min alfi ‘aabid – Satu
orang faqih lebih berat bagi syaithan daripada seribu orang yang bodoh.
Jadi bukan orang yang banyak ilmunya yang ditakuti syetan. Tapi orang
faqih.
Satu ketika ada seorang sahabat yang menyimpan sedekah di sebelah
mimbar di masjid, dengan harapan diambil oleh orang miskin. Apa yang
terjadi? Sedekah tadi diambil oleh seorang pencuri.
Di lain hari, disimpannya lagi sedekah di sebelah mimbar masjid,
dengan harapan yang sama. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh
orang tidak baik lainnya. Demikian seterusnya.
Sohabat tadi kemudian lapor kepada Nabi yang kemudian dijawab bahwa
pada saat sedekah itu diletakkan di sebelah mimbar, pahalanya sudah
diterima di sisi Allah.
Ilmu Allah dari hadits diatas adalah, saat sedekah, pahala sudah jadi. Urusan sedekah itu menjadi apa, sudah menjadi urusan Allah.
Ilmu Allah dari hadits diatas adalah, saat sedekah, pahala sudah jadi. Urusan sedekah itu menjadi apa, sudah menjadi urusan Allah.
Identik dengan keadaan masa kini. Saat seorang Mumin menyerahkan
sedekahnya kepada Baitul Maal wa Tamwil (BMT), saat itu pahalanya sudah
diterima oleh Allah. Terserah Allah, melalui pengurus BMT mau diapakan
sedekahnya itu. Itulah ilmu Allah, sebagaimana yang dapat dipetik dari
hadits sedekah yang diambil bukan oleh orang miskin diatas.
Sebaliknya mereka yang sedekah kemudian mengungkit-ungkit,
mencari-cari, berprasangka, suudzon tanpa hak, itu adalah Ilmu Syetan
yang mengajak menghancur-leburkan amal sedekahnya sendiri.
Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tubtiluu shodaqootikum bil manni wal
adza – Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan
sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati. Nah, apalagi
kalau bukan Ilmu Syetan yang membatalkan amalan?
Ibadah Ghoiro Maghdhoh
Definisi syirik sudah jelas. Ada di Al-Quran dan ada di Al-Hadits. Syirik yang terang-terangan alias dzahar adalah menyembah kepada selain Allah, atau menduakan Allah. Syirik yang samar alias khoufi adalah ibadah mengharapkan ‘sesuatu’ selain pahala dari Allah. Segala macam syirik ganjarannya adalah dimasukkan kedalam neraka.
Definisi syirik sudah jelas. Ada di Al-Quran dan ada di Al-Hadits. Syirik yang terang-terangan alias dzahar adalah menyembah kepada selain Allah, atau menduakan Allah. Syirik yang samar alias khoufi adalah ibadah mengharapkan ‘sesuatu’ selain pahala dari Allah. Segala macam syirik ganjarannya adalah dimasukkan kedalam neraka.
Maka itu terhadap pendapat yang menyatakan bahwa menghormat bendera
adalah perbuatan syirik, sudah pasti disebabkan bingung tidak bisa
membedakan antara “menyembah” dengan “menghormat”.
Hormat bendera adalah bagian dari kewajiban warga negara untuk
selayaknya menghormati segala atribut yang melambangkan kebesaran
negara. Bahkan untuk hal-hal tertentu, pelecehan terhadap atribut negara
menimbulkan konsekwensi hukum.
Jika istiqomah – konsisten dengan keyakinannya, yang menyatakan syirik terhadap menghormat bendera, seharusnya menyatakan syirik pula terhadap yang mentaati lampu setopan di perempatan jalan, dan yang mentaati tukang parkir, karena bukankan taat itu hanya kepada Allah dan Rasul? Bahkan seharusnya menyatakan perbuatan syirik pula terhadap pembayaran STNK, pembuatan KTP dan SIM, dll., dll., bukan?
Karena kebanyakan ilmu, namun bukan Ilmu Allah, melainkan ro’yu ilmu fikiran sendiri, maka syetan pun masuk. Padahal ro’yu itu sangat berbahaya. Sabda Nabi, barang siapa yang berkata dengan ro’yu alias fikiran sendiri - fa ashooba faqod akhto – umpamapun perkataannya benar, maka tetap saja salah. Apalagi perkataannya salah. Pantas bingung.
Jika istiqomah – konsisten dengan keyakinannya, yang menyatakan syirik terhadap menghormat bendera, seharusnya menyatakan syirik pula terhadap yang mentaati lampu setopan di perempatan jalan, dan yang mentaati tukang parkir, karena bukankan taat itu hanya kepada Allah dan Rasul? Bahkan seharusnya menyatakan perbuatan syirik pula terhadap pembayaran STNK, pembuatan KTP dan SIM, dll., dll., bukan?
Karena kebanyakan ilmu, namun bukan Ilmu Allah, melainkan ro’yu ilmu fikiran sendiri, maka syetan pun masuk. Padahal ro’yu itu sangat berbahaya. Sabda Nabi, barang siapa yang berkata dengan ro’yu alias fikiran sendiri - fa ashooba faqod akhto – umpamapun perkataannya benar, maka tetap saja salah. Apalagi perkataannya salah. Pantas bingung.
Kalau sudah bingung, firman Allah tsummun bukmun ‘umyun – tuli bisu buta, fahum laa yarji’uun – maka mereka tidak bisa kembali.
Alhamdulillah bagi mereka yang bisa mengamalkan ibadah maghdhoh yang berkaitan dengan Rukun Iman percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Qodar dan Kiamat; serta ibadah yang berkaitan dengan Rukun Islam Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji.
Alhamdulillah bagi mereka yang bisa mengamalkan ibadah maghdhoh yang berkaitan dengan Rukun Iman percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Qodar dan Kiamat; serta ibadah yang berkaitan dengan Rukun Islam Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji.
Alhamdulillah bagi mereka yang bisa membedakan mana ibadah ghoiro
maghdhoh yang tidak berkaitan dengan kedua rukun diatas, melainkan
ibadah sosial. Yaitu memiliki keyakinan bahwa menjadi warga negara yang
taat kepada Pemerintah yang sah serta menghormati 4 pilar (1) Pancasila,
(2) Undang-undang Dasar (UUD) 1945, (3) Bhineka Tunggal Ika dan (4)
NKRI, adalah bagian daripada ibadah.
Hanya Ilmu Allah yang sebenarnya yang bisa membawa keyakinan seperti itu. Maka sesekali tirukanlah ucapan Malaikat ketika menyerah kepada Allah untuk sujud kepada Adam: “Ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami”.
Hanya Ilmu Allah yang sebenarnya yang bisa membawa keyakinan seperti itu. Maka sesekali tirukanlah ucapan Malaikat ketika menyerah kepada Allah untuk sujud kepada Adam: “Ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami”.
Kalau sudah demikian, setinggi apapun ilmu agama dan ilmu dunia yang
dikuasai, bagaimana mungkin masih bisa sombong? Fa aina tadzhabuun?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar