Senin, 21 Oktober 2013

Membaca

Membaca menjadi bagian yang sangat mendasar ketika kemudian kita mempunyai harapan untuk lebih tahu tentang berbagai hal di dunia ini. (Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor. Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri - Wikipedia)

Sama seperti ketika pertama kali Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT, ketika Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira', Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, "Saya tidak bisa membaca". Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama.

Akhirnya, Jibril berkata:

"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Dengan membaca kita bisa tahu tentang hakikat hidup sebenarnya, tahu tentang hal dimasa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan semakin banyak membaca berarti semakin memperbanyak memory ilmu di otak. Pernah kan kita mendengar " Uthlubal 'ilma walau bisshiin " Mencarilah ilmu walaupun sampai di negeri Cina ? Bukankah sebenarnya kalau boleh dikatakan bahwa ilmu itu juga berarti membaca ?

Ada seorang menteri di sebuah kerajaan yang bercerita bahwa suatu malam karena ada suatu hal penting yang harus disampaikan kepada Raja, maka dia memberanikan mendatangi tempat dimana Raja beristirahat. Di saat dirinya berada tepat di depan pintu, dia terpana, terpaku saat mendengar Raja mengalunkan ayat - ayat Al Quran. Subhanallah, ditengah malan seperti ini ? Pikir sang menteri. Ketika kemudian dirinya sudah bertemu dengan raja, dengan penuh keingintahuan dia bertanya tentang kejadian tadi, dan dijawab oleh raja : Sebab aku juga ingin menjadi baik, bukan hanya sekedar bisa memerintahkan kepada rakyatku untuk membaca tiga ayat Al quran tiap hari, tetapi aku harus juga bisa mengerjakannya.

Betapa bijaknya rajaku, gumam si menteri.

Sudahkah hari ini kita membaca ?

Sabtu, 19 Oktober 2013

Don't ask how many fruit you can pick, but ask how many seed you can spread

Don’t ask how many fruits you can pick, but ask how many seed you can spread
(Jangan tanyakan berapa banyak buah yang dapat kamu petik, tapi tanyakanlah berapa biji yang dapat kamu tanam.)

‘Sebaik baik kamu adalah yang lebih banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia.’ (Al-Hadist) Di dunia ini dipenuhi dengan ketergantungan, sebab kuasa Allah pada semesta. Ada yang lemah ada yang kuat, ada yang kecil ada yang besar. Yang lemah bergantung pada yang kuat, tapi yang kuat pun bergantung pada yang lemah. Sama halnya dengan hal yang besar, yang besar bergantung pada yang kecil dan sebaliknya. Banyak sekali contohnya, seperti tidak akan ada murid kalau tidak ada guru, dan sebaliknya, tidak akan ada guru kalau tidak ada murid.

Semua makhluk di dunia ini diberikan peran oleh Allah sesuai dengan kedudukannya. Semua bisa memberikan manfaat pada yang lain, yang dalam ilmu biologi disebut simbiosis mutualisma. Tanpa memandang derajat, semua bisa berbuat kebaikan untuk yang lain. Demikian juga dalam kehidupan kita manusia. Sebagai manusia, dulu kita berawal dari tidak ada, lalu lahir sebagai bayi, kemudian menjadi anak anak, meningkat lagi menjadi remaja, dewasa dan menjadi tua kemudian tiada. Sebagai bayi kita bergantung pada bapak dan ibu kita, tetapi setelah baligh ketergantungan itu harus segera kita akhiri. Jangan berharap terus kita akan mendapat kebaikan kebaikan dari orang lain sebagaimana kita bayi dulu, tapi berpikirlah untuk menanyakan berapa banyak kebaikan kita yang akan dan telah kita tanam, kita berikan kepada orang lain.

Secara logika masih sangat wajar, jika yang lemah bergantung terus pada yang kuat. Demikian juga kita, karena masih merasa muda punya prinsip tergantung terus pada kedua orang tua. Belum berpikir untuk berbuat yang baik. Itu wajar, tapi kapankah kita mulai menanam kebaikan pada yang lain. Sebagai anak bisa kita mulai dengan toat kepada orang tua. Nurut dan menyadari akan kemampuan kedua orang tuanya. Belajar yang tertib, ngaji yang rajin dan membantu sebisa mungkin tugas orang tua. Sekolah yang rajin, tugas tugas dikerjakan dan bergaul dengan teman teman yang baik . Karena kita belum bisa, maka kita tidak malu untuk belajar, menjadi murid. Tidak malu bertanya karena saatnya nanti kita akan mengajar, menjadi guru. Karena kita masih muda, kita menghormat pada yang tua. Dan masih banyak lagi yang bisa kita perbuat sebagai amal kebaikan kita pada yang lain. Caranya dengan mengetahui dan mempelajari akan hak hak dan kewajiban kita. Tanamkanlah kebaikan sebanyak banyaknya, sekecil apapun amal kebaikan itu, seperti membuang duri di jalan, menyingkirkan kotoran dll. Ingatlah cerita tukanq sapu masjidnya Rosul. Dibandingkan dengan sahabat sahabat yang lain, yang ahli perang, ahli ilmu, sepertinya tukang sapu itu tak berharga. Sampai sampai ketika matipun Rasul tidak diberitahunya. Tetapi apa kemudian, begitu Rasulullah tidak menjumpainya, Rasul menanyakannya, dan setelah diberi tahu tentang kematiannya, Rasulpun menanyakan kuburannya dan sholat di sampingnya. Begitu berharganya sebuah kebaikan yang dikerjakan sesuai dengan kemampuannya.
‘Allah tidak memaksa kepada diri seseorang kecuali apa apa yang kuat baginya.’ (Q.S. Al Baqoroh: 282 )

Mati Bukanlah Akhir Cerita Kehidupan

Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sebentar untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup. Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati.

Karena mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan. Maka dari itu, kita selalu menjaga sunnah Nabi setiap hari.sunnah-sunnah Nabi SAW itu adalah:

Pertama, tahajjud, karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Kedua, membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

Ketiga, jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Keempat, jaga shalat dhuha, karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.

Kelima, jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersodakoh, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersodakoh setiap hari.

Keenam, jaga wudhu terus menerus, karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah”.

Ketujuh, amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.

Dzikir adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berdzikir pula, oleh karena itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah ritual dan ibadah ajaran Islam lainnya.

BERSYUKUR

Tak ada yang lebih indah daripada kehidupan yang penuh dengan kesyukuran. Rasanya semua orang menginginkannya. Berbagai usaha pun dilakukan, mulai dari yang kecil berupa membina hati, kemudian hal yang gampang dan ringan dengan ucapan atau yang berat dan besar dengan tindakan – tindakan nyata. Sayangnya, tak banyak orang yang pada akhirnya dapat merasakan predikat indah itu. Kesyukuran timbul tenggelam di dalam samudera kehidupan ini. Silih berganti. Sebab jumlah nikmat yang tak terhitung dan sifat lupa dan lalai manusia akan nikmat itu sendiri. Alhasil, hidup berlimpah dengan rasa syukur menjadi barang yang sulit ditemukan. Tak jarang, malah terlupakan.
Hal ini diperkuat dengan garis Allah di dalam Kitabnya, dimana Allah menyebutkan bahwa kategori orang yang bisa bersyukur itu sedikit. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. (QS Saba’:13) Konsekuensi dari hukum ini diantaranya adalah susahnya mencari keteladanan dalam bersyukur. Di Quran misalnya hanya beberapa hamba yang tertulis sebagai ahli syukur, Nabi Nuh misalnya seperti yang tertulis di dalam surat al-Israa ayat 3, innahu kaana ‘abdan syakuuron - sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.

Kemudian Nabi Daud dan keluarganya, yang disebutkan di dalam surat Saba ayat 13, i’maluu aalaa daawuuda syukron - bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Berkenaan dengan masalah syukur ini Nabi Dawud pernah bertanya kepada Allah. “Bagaimana aku mampu bersyukur kepadaMu ya Allah, sedangkan bersyukur itupun nikmat dari Engkau? Allah pun menjawab, “Sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu, karena engkau mengakui nikmat itu berasal dari-Ku”.

Berkaitan dengan masalah ini Rasulullah SAW pun menegaskan dengan sabdanya; “Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai oleh Allah juga adalah puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya”.(Rowahu al-Bukhari, Muslim)

Juga Rasulullah SAW menjelaskan dengan sabdanya; “Tidaklah seseorang itu makan makanan yang lebih baik kecuali dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya Nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (Rowahu al-Bukhari)

Di dalam jalur riwayat lain, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Tsabit Al-Bunani bahwa Nabi Daud membagi waktu shalat kepada istri, anak dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada sedikit waktupun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat.

Tampilnya keluarga Nabi Dawud sebagai teladan dalam bersyukur memang tepat dan contoh yang diberikan juga gamblang. Bersyukur tidak hanya dengan hati, perkataan dan tindakan sebagaimana yang dicontohkan Keluarga Nabi Daud. Lebih dari itu bersyukur adalah dalam rangka mencari kecintaan - keridhoan dari Allah.

Demikian juga apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam masalah ini. Ketika turun Surat Fath ayat 1 yang menetapkan pengampunan kepada Rasulullah SAW atas dosa yang terdahulu dan yang akan datang, kesungguhan Rasulullah SAW dalam bersyukur semakin menjadi. Shalat malamnya membuat kedua kaki beliau bengkak – bengkak, sehingga Aisyah pun berkata, “Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin untuk mengampuni segala dosa-dosamu baik yang awal maupun yang akhir?” Rasulullah menjawab, “Afalam akuunu abdan syakuron - Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur”. (Rowahu Al-Bukhari).

Dari tiga teladan di atas, kita perlu menelusuri lebih lanjut jalan menjadi ahli bersyukur. Walaupun tertulis sedikit kita berharap dan berusaha menjadi bagian yang sedikit itu.  Sebagai inspirasi cerita berikut layak dicermati. Suatu saat Umar bin Khaththab pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.”

Ada hal – hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan benih – benih kesyukuran agar terpatri di dalam hati. Yang pertama adalah benih hati “tidak merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik Allah SWT.” Allah berfirman; “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS al Baqoroh 155 – 156).

Sebab makin kita merasa memiliki sesuatu akan semakin takut kehilangan. Dan takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan. Tapi kalau kita yakin semuanya milik Allah, maka ketika diambil oleh Allah tidak layak kita merasa kehilangan. Karena kita hanya tertitipi. Dalam kondisi seperti ini layak direnungi kaidah tukang parkir. Setiap hari di area parkir berjajar mobil mewah dari Mercy, BMW, Toyota, Mazda dan mobil bagus lainnya. Walau dari pagi sampai petang mobil – mobil itu di bawah tanggung jawab si tukang parkir, tetapi apakah dia bisa marah, sedih, ketika mobil – mobil tersebut diambil pemiliknya kala sore hari? Tentu tidak. Bahkan dramawan WS Rendra menulis dengan apik, hakikat harta sebagai titipan seperti dalam puisinya Makna Sebuah Titipan.

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Rahasia benih kedua menjadi ahli syukur adalah “selalu memuji Allah dalam segala kondisi. " Kenapa? Allah berfirman; “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS An-nahl 18). Karena kalau dibandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya. Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada bertepi.

Ini seperti cerita seorang petani miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang-orang di desanya amat prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya istirja dan mengatakan, alhamdulillah, cuma kuda yang hilang. Bukan lainnya. Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke rumahnya sambil membawa serombongan kuda liar. Petani itu mendadak menjadi orang kaya. Orang-orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, namun ia hanya berkata, alhamdulillah.

Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat musibah. Anaknya yang berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh sehingga patah kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin, tapi sang petani hanya mengatakan, alhamdulillah cuma patah kakinya. Ternyata seminggu kemudian tentara masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda untuk wajib militer. Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali anak sang petani karena kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya berkata singkat, alhamdulillah. Allah telah mengatur segalanya.

Apa yang harus membuat kita menderita? Adalah menderita karena kita tamak kepada yang belum ada dan tidak mensyukuri apa yang ada sekarang.

Benih ketiga untuk menjadi ahli syukur adalah “manfaatkan nikmat yang ada  untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT”. Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kalian kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah.”  (QS Al-Baqoroh 172)

Alkisah ada tiga pengendara kuda masuk ke dalam hutan belantara, kemudian dia tertidur. Saat terjaga dilihat kudanya telah hilang beserta semua perbekalannya.  Betapa kagetnya mereka, karena alamat tidak bisa meneruskan perjalanan. Pada saat yang sama dalam keadaan kaget tersebut, ternyata seorang raja yang bijaksana melihatnya dan mengirimkan kuda yang baru lengkap dengan perbekalan untuk perjalanan mereka.  Ketika dikirimkan reaksi ketiga pengendara yang hilang kudanya itu berbeda-beda.

Pengendara pertama si-A kaget dan berkomentar; "Wah ini kuda yang hebat sekali, bagus ototnya, lengkap perbekalannya dan banyak pula!” Dia sibuk dengan kuda dan perbekalannya tanpa bertanya kuda siapakah ini? Pengendara kedua Si-B, gembira dengan kuda yang ada dan berkomentar; "Wah ini kuda yang hebat, dan saya benar – benar membutuhkannya. Terima kasih, terima kasih.” Begitulah si-B bersyukur dan berterima kasih kepada yang memberi. Sikap pengendara ke tiga, si-C beda lagi. Ia berkata; "Lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik siapa?” Yang ditanya menjawab; " Ini kuda milik raja."
Si-C bertanya kembali; "Kenapa raja memberikan kuda ini ?” Dijawab; "Sebab raja mengirim kuda agar engkau mudah bertemu dengan sang raja". Dengan bersuka cita si-C menjawab; “Terima kasih atas semuanya, sehingga saya bisa sampai ke sang raja.”
Dia gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat memudahkan dia dekat dengan sang raja.

Begitulah, si-A adalah gambaran manusia yang kalau mendapatkan mobil, motor, rumah, dan  kedudukan sibuk dengan semua itu, tanpa sadar bahwa itu semua adalah titipan. Yang B mungkin adalah model orang kebanyakan yang ketika senang mengucap Alhamdulillah.  Tetapi ahli syukur yang asli adalah yang ketiga yang kalau punya sesuatu dia berpikir bahwa inilah kendaraan yang dapat menjadi pendekat kepada Allah SWT. Ketika mempunyai uang dia mengucap alhamdulillah, uang inilah pendekat saya kepada Allah. Ia tidak berat untuk membayar zakat, dia ringan untuk bersadaqah, karena itulah jalan mendekatkan diri kepadaNya.

Benih syukur yang keempat adalah “berterima kasih kepada yang telah menjadi jalan perantara nikmat.” Seorang anak disebut ahli syukur kalau dia tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya. Benar orang tua kita tidak seideal yang kita harapkan, tetapi masalah kita bukan bagaimana sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua. Sama halnya dengan nikmat lainnya, kadang datangnya melalui perantara, maka yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bersikap yang baik kepadanya.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a. dia berkata, “Rasululloh SAW bersabda; ’Barangsiapa diberi suatu kebaikan, lalu dia berkata kepada pemberinya – Jazaakallohu khairo/Semoga Allah membalas kebaikan (yang lebih baik) kepadamu – maka dia telah sampai (sempurna) di dalam memuji.”(Rowahu at-Tirmidzi, dia berkata hadist hasan ghorib)

Dari al-Asy’ats bin Qois r.a. dia berkata, “Rasululoh SAW bersabda tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (Rowahu Ahmad)

Dari Abu Huroiroh r.a, dari Nabi SAW beliau bersabda,”Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (Rowahu Abu Dawud dan at- Tirmidzi dia berkata hadist shohih)
Sebagai pelengkap benih – benih di atas, tentunya adalah memperbanyak doa untuk menyirami benih – benih itu. Berdoa untuk menjadi hamba yang penuh kesyukuran, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Muadz bin Jabal.  Hadist itu diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud (Kitabu Sholah) dan Sunan Nasa’i (Kitabu as-Sahwi), juga terdapat dalam Musnad Ahmad, yang dishohihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dari Muadz bin Jabal r.a. sesungguhnya Rasulullah SAW memegang tangannya Muadz dan berkata; ”Ya Muadz, Demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu, Demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu.” Seterusnya Beliau berkata, ”Aku wasiat kepadamu hai Muadz, jangan meninggalkan sungguh engkau di dalam setiap habis sholat untuk berdoa - Allohumma a’innaa ’alaa dzikrika, wasyukrika wahusni ’ibadatik - Ya Allah tolonglah kami untuk senantiasa berdzikir kepadaMu, bersyukur kepadaMu dan beribadah kepadaMu dengan baik”.
Setelah menjadi orang iman, tantangan berikutnya yang menghadang adalah berpacu untuk menjadi orang yang berkelimpahan kesyukuran. Walaupun kesempatannya kecil, kita masih punya peluang meraihnya bukan? Nah, sebagai parameter penutup bisa dirujuk cerita tentang seorang pengembala yang ditanya oleh tuannya. “Bagaimana cuaca hari ini?” “Hari ini cuacanya sangat menyenangkan”, jawabnya. ‘Apakah kamu tidak melihat bahwa dari pagi mendung dan tak tampak matahari?” “Betul tuan, tetapi kehidupan ini telah mengajarkan kepada saya bahwa banyak keinginan yang tidak saya dapatkan, oleh karena itu saya mulai mensyukuri apa saja yang saya dapatkan.”

Lalu, dimanakah kita sekarang?